Categories: welcome

Ableisme dan Erosi keadilan: Sebuah tantangan Krisis Moral dalam Horizon Kebangsaan

Ableisme bukan sekadar sebuah definisi. Banyaknya pemaknaan yang lahir justru menandai metamorfosisnya yang tak lekang oleh zaman—berubah bersama peradaban, bergeser mengikuti ruang dan waktu. Ia menjelma dalam wajah-wajah yang berbeda, namun tetap berakar pada cara pandang yang sama: menilai manusia dari ukuran kesempurnaan yang sempit. Tiada henti menyebut ableisme bukan semata untuk mengulang istilah, melainkan untuk mengingatkan bahwa persoalan sesungguhnya terletak pada bagaimana dunia menghadirkan keadilan, sebagaimana kodrat awal yang dianugerahkan Tuhan. Manusia lahir dari sesama manusia, bukan dari kesempurnaan yang mutlak. Yang dilahirkan bukanlah tubuh tanpa cela, melainkan keunikan yang saling melengkapi dan memberi warna pada kehidupan. Dalam keberagaman itulah martabat menemukan maknanya, dan kemanusiaan memperoleh bentuknya yang paling utuh.
Dahsyatnya ableisme sebagai musuh nurani manusia terletak pada caranya bekerja: halus, nyaris tak terlihat, lembut di permukaan namun menyiksa di kedalaman. Ia tidak selalu datang dengan wajah kasar, melainkan mengendap-endap seperti gelombang yang menerjang pantai—surut sejenak, seolah hilang ditelan laut, lalu kembali menghantam dengan kekuatan yang sama, bahkan lebih besar. Dalam diamnya, ia menormalisasi penyingkiran; dalam kewajarannya, ia merampas martabat manusia. Karena itu, kewaspadaan terhadap kehadirannya menjadi penting, sebab ableisme secara perlahan menistakan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menjunjung keberagaman sebagai fondasi kehidupan bersama. Ia merusak bukan hanya ruang sosial, tetapi juga batin manusia—menanamkan keyakinan bahwa nilai seseorang ditentukan oleh kesempurnaan tubuh dan kemampuan. Maka, menghindari cara berpikir ableis adalah langkah pertama yang paling mendasar, sebab setiap tindakan diskriminatif selalu berawal dari pikiran yang gagal memanusiakan manusia.

 

full text (available)
Unduh pdf

Lingua's Admin

Bima Kurniawan lahir di Madiun, 18 Desember 1986. Ia adalah seorang pendidik tuna netra. Ia mulai mengeluti pekerjaannya sebagai seorang pendidik Bahasa Prancis sejak Januari 2011 2 Tahun setelah lulus dari Universitas Negeri Jakarta Prodi Pendidikan Bahasa Prancis. Pada tahun itu, ia bergabung menjadi keluarga besar SMA Negeri 68 Jakarta, salah satu sekolah terbaik di Jakarta dan di Indonesia. Karirnya semakin membaik setelah pada tahun 2011, 2012 dan 2013 diberikan kepercayaan untuk mengisi materi pada pelatihan guru bahasa Prancis yang diselenggarakan oleh Persatuan Pengajar Bahasa Prancis Indonesia (PPSI) dan dipercaya pula oleh Pusat Perbukuan BALITBANG Kemdikbud sebagai penelaah buku ajar kurikulum 2013 pada tahun 2012, 2013 dan 2014. Pada tahun 2012, Bima melanjutkan studi S2 intuk program studi Linguistik Terapan di Universitas Negeri Jakarta dengan focus keahlian kritik penerjemahan. Pada tahun 2014, Bima lulus dengan predikat cum laude dan dinobatkan sebagai lulusan terbaik prodi Linguistik Terapan UNJ angkatan 2012. Pada Tahun 2021, Bima menginisiasi sebuah komunitas Guru Tunanetra Inklusif dan merupakan salah seorang pendiri aktif Ikatan Guru Tunantra Inklusif (IGTI), organisasi profesi guru dengan hambatan penglihatan yang mengabdi di satuan pendidikan umum atau penyelenggaran pendidikan inklusif. Pada tahun, 2022, setelah perangkat organisasi terbentuk, Bima ditetapkan oleh musyawarah perwakilan sebagai ketua dewan kehormatan IGTI. pada tahun yang sama Bima diangkat menjadi dosen linguistik terapan di Universitas Trunojoyo Madura.

Share
Published by
Lingua's Admin

Recent Posts

Deklarasi inklusi di mana-mana, keadilan belum merata; mengapa?

Profil penulis: Bima Kurniawan, dosen tunanetra di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trunojoyo Madura, memiliki…

4 bulan ago

Arah Inklusi: Peran Strategis Perguruan Tinggi dalam Menciptakan Harmoni

Profil penulis: Bima Kurniawan, dosen tunanetra di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trunojoyo Madura, memiliki…

5 bulan ago

English E-learning platform

Mata kuliah Bahasa Inggris dirancang dalam tiga kategori utama, yaitu Basic Level, Intermediate Level, dan…

8 bulan ago

Pendidikan pancasila

Mata kuliah Pendidikan Pancasila dirancang dalam dua dimensi utama, yakni dimensi teoritis dan dimensi praktis.…

9 bulan ago

Kepemimpinan inklusif dalam mewujudkan Keberlanjutan kesetaraan dan keadilan: Perspektif Sosial dan hak asasi manusia

Bima Kurniawan Akademisi Universitas Trnojoyo Madura Dalam periode waktu 40 tahun terakhir, berbagai kajian model…

1 tahun ago

Pendidikan inklusif dalam perspektif Islam

Oleh Bima Kurniawan Akademisi Universitas Trunojoyo Madura Pendidikan adalah salah satu upaya memanusiakan manusia. Upaya…

2 tahun ago