Ableisme bukan sekadar sebuah definisi. Banyaknya pemaknaan yang lahir justru menandai metamorfosisnya yang tak lekang oleh zaman—berubah bersama peradaban, bergeser mengikuti ruang dan waktu. Ia menjelma dalam wajah-wajah yang berbeda, namun tetap berakar pada cara pandang yang sama: menilai manusia dari ukuran kesempurnaan yang sempit. Tiada henti menyebut ableisme bukan semata untuk mengulang istilah, melainkan untuk mengingatkan bahwa persoalan sesungguhnya terletak pada bagaimana dunia menghadirkan keadilan, sebagaimana kodrat awal yang dianugerahkan Tuhan. Manusia lahir dari sesama manusia, bukan dari kesempurnaan yang mutlak. Yang dilahirkan bukanlah tubuh tanpa cela, melainkan keunikan yang saling melengkapi dan memberi warna pada kehidupan. Dalam keberagaman itulah martabat menemukan maknanya, dan kemanusiaan memperoleh bentuknya yang paling utuh.
Dahsyatnya ableisme sebagai musuh nurani manusia terletak pada caranya bekerja: halus, nyaris tak terlihat, lembut di permukaan namun menyiksa di kedalaman. Ia tidak selalu datang dengan wajah kasar, melainkan mengendap-endap seperti gelombang yang menerjang pantai—surut sejenak, seolah hilang ditelan laut, lalu kembali menghantam dengan kekuatan yang sama, bahkan lebih besar. Dalam diamnya, ia menormalisasi penyingkiran; dalam kewajarannya, ia merampas martabat manusia. Karena itu, kewaspadaan terhadap kehadirannya menjadi penting, sebab ableisme secara perlahan menistakan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menjunjung keberagaman sebagai fondasi kehidupan bersama. Ia merusak bukan hanya ruang sosial, tetapi juga batin manusia—menanamkan keyakinan bahwa nilai seseorang ditentukan oleh kesempurnaan tubuh dan kemampuan. Maka, menghindari cara berpikir ableis adalah langkah pertama yang paling mendasar, sebab setiap tindakan diskriminatif selalu berawal dari pikiran yang gagal memanusiakan manusia.
full text (available)
Unduh pdf
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mendorong perguruan tinggi untuk…
Halo smart and inclusive educators, Satu lagi langkah maju yang diberikan pemerintah untuk menciptakan iklim…
Indonesia terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif melalui berbagai regulasi. Komitmen tersebut antara…
Halo pemerhati disabilitas yang berbahagia, Perkembangan regulasi dan kebijakan terkait disabilitas di Indonesia terus menunjukkan…
Profil penulis: Bima Kurniawan, dosen tunanetra di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trunojoyo Madura, memiliki…
Profil penulis: Bima Kurniawan, dosen tunanetra di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trunojoyo Madura, memiliki…